Home » Kesehatan Gigi » Membedakan Mitos dan Fakta Seputar HIV/AIDS

Membedakan Mitos dan Fakta Seputar HIV/AIDS

Membedakan Mitos dan Sebelumnya, pasien HIV tidak memperlihatkan tanda-tanda yang detil. Tanda-tanda awalnya HIV dapat berbentuk demam enteng, ruam kulit, ngilu persendian, dan pembesaran kelenjar getah bening. Kemudian, pasien HIV umumnya tidak memperlihatkan tanda-tanda apa-apa sampai ketahanan badannya jadi benar-benar kurang kuat.

Keadaan serius di mana seorang yang sudah terkena HIV mulai alami bermacam penyakit infeksi karena kurang kuatnya ketahanan badan disebutkan AIDS (acquired immunodeficienty syndrome). Membedakan Mitos dan

Jika pasien HIV tidak jalani penyembuhan, infeksi virus HIV bisa berkembang jadi AIDS dalam kurun waktu 10-15 tahun. Pasien AIDS umumnya alami pengurangan berat tubuh yang berarti, demam dan diare berkelanjutan, dan bermacam tanda-tanda infeksi berat yang lain. Membedakan Mitos dan

Dogma yang Salah mengenai HIV/AIDS
Banyak dogma HIV/AIDS yang tidak seutuhnya betul, bahkan juga benar-benar salah. Ini dapat mengakibatkan penjagaan HIV/AIDS jadi kurang efisien, dan membuat penderitanya mendapatkan stigma jelek dan diasingkan.

Beberapa dogma salah yang beredar banyak dalam masyarakat mengenai HIV/AIDS ialah:
1. Seorang bisa terjangkit virus HIV jika bersisihan dengan pasien HIV/AIDS
Faktanya, virus HIV tidak disebarkan karena hanya seorang ada dalam jarak dekat atau bernapas di ruangan yang serupa dengan pasien HIV/AIDS.
Virus HIV tidak disebarkan lewat sentuhan kulit, misalkan waktu berjabatan tangan atau berpelukan; lewat cipratan ludah, misalkan waktu pasien bersin atau batuk; atau lewat keringat. Virus HIV pun tidak menyebar lewat kolam renang, toilet umum, alat makan, atau gigitan nyamuk.
Virus HIV cuman disebarkan lewat hubungan seks tanpa ada kondom, darah (umumnya karena pemakaian jarum suntik bersama), dan air susu ibu. Penyebaran HIV/AIDS dari ibu ke bayi bisa berlangsung sepanjang kehamilan, persalinan, atau waktu menyusui.
2. Sex oral tidak menebarkan virus HIV
Sex oral mempunyai peluang yang lebih rendah untuk menebarkan virus HIV dibanding dengan sex anal atau vaginal. Tetapi, sex oral yang tidak diproteksi kondom masih beresiko menyebarkan virus HIV. Resiko penyebarannya akan bertambah jika aktor sex oral sedang mempunyai cedera atau sariawan di mulut, atau jika yang menerima sex oral sedang mempunyai cedera di alat kelamin.
3. Pasangan heteroseksual tak perlu mencemaskan penyebaran HIV
Sex anal antarpria homoseksual benar-benar mempunyai resiko yang tertinggi untuk menyebarkan virus HIV. Tetapi, bukan bermakna pasangan heteroseksual tidak beresiko terjangkit HIV lewat hubungan seksual. Sex tanpa ada kondom tetap menyebarkan virus HIV. Resiko penyebaran ini bisa bertambah jika satu dari pasangan itu mempunyai infeksi menyebar seksual yang lain.
4. HIV ialah vonis mati dan pasien HIV pasti alami AIDS
Sekarang ini benar-benar tidak ada obat yang bisa seutuhnya membunuh virus HIV. Tetapi, telah ada banyak obat antiretroviral yang bisa perlambat simulasi (perkembangbiakan) virus HIV.
error: Content is protected !!